
Raden Ahmad Kosasih (Bogor, Jawa Barat, 1919) adalah seorang penulis dan penggambar komik termasyhur dari Indonesia. Generasi komik masa kini menganggapnya sebagai Bapak Komik Indonesia
Kebanyakan kita hanya tau Nama Pengarang maupun Cersil bisa nama asli atau nama samaran (alias) , nah, sebagai apresiasi kami terhadap beliau-beliau kami persembahkan halaman ini yang dikumpulkan dari berbagai sumber di internet, juga sebagai bahan informasi bagi para pengunjung website Tirai Kasih
"Tak Kenal Maka Tak Sayang"
MAESTRO PENGARANG/PENYADUR CERITA SILAT MANDARIN
Cha Liang Yong (Chin Yung)
.jpg)
Chin Yung, yang memiliki nama asli Cha Liang Yong atau dikenal sebagai Louis
Cha di kalangan internasional, dilahirkan di Zhejian China pada tahun 1924.
Ketimbang menjadi diplomat selesai pelajarannya Chin Yung memilih mengejar karir
di bidang jurnalistik. Bosan hanya menulis berita, Chin Yung mulai mencoba
menulis resensi film, menulis skenario film, sampai pada akhirnya menulis novel.
Menulis novel inilah rupanya kekuatan utama dari Chin Yung.
Novel pertama Chin Yung ditulis pada tahun 1955 dengan judul Pedang dan Kitab
Suci (Shu Jian En Chou Lu). Novel ini diterbitkan secara berseri di suratkabar
Xin Wan Bao, Hong Kong, dan mendapat sambutan yang luar biasa dari masyarakat.
Chin Yung kemudian mendirikan suratkabarnya sendiri, dengan nama harian Ming Pao
Daily, dan menerbitkan novel-novelnya secara berkala di surat kabarnya tersebut.
Secara resmi terdapat 13 novel (12 novel panjang dan 1 novel pendek) dan 2
cerita pendek yang ditulis Chin Yung dalam selang waktu 17 tahun, dari tahun
1955 sampai 1972.
Judul buku dan dibuat ditahun
1. Pedang dan Kitab Suci Shu Jian En Chou Lu 1955
2. Pedang Ular Emas Bi Xue Jian 1956
3. Legenda Pendekar Rajawali She Diao Ying Xiong Zhuan 1957
4. Kembalinya Sang Pendekar Rajawali Shen Diao Xia Lu 1959
5. Rase Terbang dari Pegunungan Salju Xue Shan Fei Hu 1959
6. Si Rase Terbang Fei Hu Wai Zhuan 1960
7. Pedang Langit & Golok Naga Yi Tian Tu Long Ji 1961
8. Sepasang Golok Mustika Yuan Yang Dao 1961
9. Kuda Putih Menghimbau Angin Barat Bai Ma Xiao Xi Feng 1961
10. Pedang Hati Suci Lian Cheng Que 1963
11. Pendekar-Pendekar dari Negeri Tayli Tian Long Ba Bu 1963
12. Medali Wasiat Xia Ke Xing 1965
13. Hina Kelana Xiao Ao Jiang Hu 1967
14. Kaki Tiga Menjangan Lu Ding Ji 1969
15. Pedang Puteri Yue Yue Nu Jian 1970
Tahun 1972 Chin Yung menyelesaikan penulisan novelnya yang terakhir, Kaki Tiga
Menjangan (Lu Ding Ji), yang telah dimulainya sejak 1969 dan berikrar untuk
tidak menulis novel lagi. Sampai hari ini ikrarnya masih tetap dipegang, namun
nama besarnya terus hidup.
Khu Lung (Si Sukma Bebas)

Gu Long, yang memiliki nama asli Xiong Yaohu (1937-1985), merupakan penulis
cerita silat terpopuler di Taiwan. Keluarganya berasal dari propinsi Jiangxi,
China, dan Gu Long lahir di Hong Kong pada tahun 1937. Pada saat berumur 13
tahun, ia pindah ke Taiwan bersama kedua orangtuanya, yang bercerai tidak lama
setelah itu.
Pada masa awal hidupnya di Taiwan, Gu Long tinggal di sebuah kota tua bernama
Ruifang di pinggir kota Taipei, dan mengambil studi di jurusan Inggris sebuah
akademi terkemuka Tamkang English Junior College (sekarang bernama Universitas
Tamkang). Tidak seperti kebanyakan orang yang berusaha keras menyelesaikan
studinya agar dapat bekerja di kota besar, Gu Long tidak menyelesaikan studinya
dan malah kembali ke kota kecilnya untuk menjalani kehidupan tenang dan
mewujudkan impian hidupnya: mengarang buku.
Gu Long mulai menulis novel di usia 11 tahun dan memperoleh royalti tulisannya
yang pertama di usia 19 tahun. Tema utama novel dan prosanya pada awalnya adalah
cinta, namun namanya baru melambung dan dikenal orang saat teman-temannya
mendorongnya untuk menulis novel cerita silat. Pada awal tahun 60-an Gu Long, di
usianya yang ke-23, berkonsentrasi penuh menulis cerita silat. Kisah cinta dalam
novel-novel silatnya begitu realistis, mungkin karena pengalamannya sekian tahun
menulis kisah cinta, dan gaya penulisannya begitu unik dan orisinil.
Karir Menulis
Karya Gu Long muncul pada waktu yang tepat saat novel cerita silat sedang
digemari baik di Taiwan maupun di Hong Kong. Karir menulisnya yang berlangsung
lebih dari 20 tahun secara kronologis dapat dibagi ke dalam 3 periode utama.
Karya-karyanya yang ditulis pada periode pertama, seperti Cangqiong Shen Jian
dan Piao Xiang Jian Yu, tidak berbeda dengan karya-karya novelis-novelis umum
lainnya.
Pada periode yang kedua barulah Gu Long mengekspresikan gayanya yang khas dan
unik serta pemikirannya yang dalam. Karyanya seperti Da Qi Yingxiong Zhuan dan
Juedai Xuang Jian (Pendekar Binal/The Remarkable Twins) telah mampu menempatkan
dirinya sejajar dengan tiga novelis utama Taiwan, Zhu Qingyun, Wo Longsheng, dan
Si Maling; mereka berempat disebut dengan “The Four Masters of Taiwan”. Setelah
itu muncullah karya-karyanya yang paling terkenal, seperti Chu Liu Xiang
(Pendekar Pencabut Nyawa) dan Duoqing Jianke Wuqing Jian (Pendekar
Budiman/Romantic Swordsman). Cerita Chu Liu Xiang yang menggabungkan cerita
silat, detektif, dan tema cinta, begitu mempesona dan diakui sebagai kisah
Sherlock Holmes-nya Asia.
Meski Gu Long tidak pernah berhenti menemukan ide-ide baru untuk menghibur para
pembacanya, cerita-cerita yang dibuatnya di periode yang terakhir dalam
perjalanan karirnya tidak disambut sebaik buku-buku yang ia tulis sebelumnya.
Setelah tahun 1975 karyanya menjadi semakin buruk, dan gayanya telah banyak
ditiru oleh para penulis pendatang baru. Saat gayanya memudar, kejayaan
novel-novel cerita silat pun turut surut bersamanya.
Sebuah Pribadi yang Kontroversial
Gu Long merupakan seorang yang berkepribadian unik dan kontroversial. Ia hanya
mau berbicara dengan mereka yang dikenalnya dengan baik. Ia selalu memulai
penulisannya dengan memotong kukunya terlebih dahulu (temannya menjelaskan bahwa
sesungguhnya Gu Long menggunakan waktu tersebut untuk menyusun dalam benaknya
alur cerita yang akan ditulisnya). Ia kadang duduk dan berbaring di atas sebuah
papan tulis, karena percaya dengan melakukan itu inspirasi akan mengalir
memasukinya.
Gu Long sangat suka minum alkohol dan merupakan seorang perokok berat. Ia dapat
menghabiskan rata-rata 2 bungkus rokok dalam semalam penyusunan novelnya. Ia
juga memiliki reputasi yang buruk di mata penerbit-penerbit, karena ia meminta
pembayaran royalti yang tinggi di muka kepada penerbitnya, namun kemudian gagal
menyelesaikan novelnya sesuai dengan tenggat waktu yang ditentukan. Akan tetapi
penerbit-penerbitnya tersebut menerima saja dari waktu ke waktu, karena mereka
takut kehilangan Angsa Emas mereka tersebut.
Kisah Cinta
Kesempurnaan hidup di mata Gu Long terdiri dari pena, alkohol, dan wanita
cantik. Ia menikah 2 kali dan keduanya berakhir dengan perceraian. Dari ke-2
pernikahannya itu ia dikaruniai 3 orang putra dan sebuah luka batin yang
mendalam. Kegagalannya dalam membina keluarga mungkin dapat dikatakan karena
sifatnya yang suka berfoya-foya.
Namun meski gagal dalam 2 pernikahannya tersebut, Gu Long tidak pernah
kekurangan wanita cantik dalam hidupnya. Dunia literatur pada waktu itu begitu
penasaran mengapa seorang Gu Long yang tampangnya biasa-biasa saja dapat memikat
begitu banyak wanita cantik. Sebagian mengatakan bahwa itu dikarenakan
kekayaannya, namun Ding Qing murid dari Gu Long, yang mengenalnya dengan baik,
mengatakan bahwa karisma Gu Long ada dalam kesepiannya – dan itulah yang telah
memikat begitu banyak wanita cantik.
Wanita-wanita yang mengenal Gu Long mengerti bahwa ia adalah seorang laki-laki
kesepian yang mengejar hal-hal yang baru karena hatinya yang penuh dengan
kesepian. Karenanya, Gu Long telah mencintai banyak wanita, namun tidak ada satu
hubungan pun di antaranya yang berlangsung lama.
Meski Gu Long tidak dapat hidup tanpa teman wanita, ia seringkali mengabaikan
wanita yang dicintainya untuk bisa bersama-sama dengan teman-temannya. Sikapnya
ini, yang menganggap teman wanita mudah dicari namun sahabat baik sulit untuk
ditemukan, telah menimbulkan kebencian di hati teman-teman wanitanya, begitu
juga sikapnya yang menganggap hidup ini dengan tidak serius. Akibatnya ke-2
wanita yang menceraikannya dan wanita-wanita lain yang pernah dekat dengannya
semua berakhir dengan tidak pernah dapat mengampuni sikapnya itu.
Gu Long sebenarnya ingin mengubah cara hidupnya, namun ia tidak mampu. Ia tidak
ingin orang lain seperti dirinya. Ia sadar betapa banyak hutang cinta yang
dimilikinya.
Kehidupannya yang Singkat
Gu Long menjadi termasyur di usia muda, namun ia juga meninggal di usianya yang
masih muda, pada umur 48 tahun, tanggal 21 September 1985. Ia mati karena
alkohol. Alkohol telah menjadi sahabatnya melewati masa susah dan senangnya,
namun juga telah menjadi penyebab kerusakan hatinya (Gu Long mengidap sakit
pengerasan di hatinya/hepatocirrhosis).
Pada tanggal 21 September 1985 Gu Long jatuh koma, dan kata-kata terakhirnya
adalah: “Mengapa tidak ada salah seorang teman-teman wanitaku yang datang
mengunjungi aku?” Malam itu pukul 6:06pm, di rumah sakit Tri-service Taipei, Gu
Long mengakhiri penjalanan hidupnya, meninggalkan lingkaran karya tulisnya dan
dunia ini untuk selamanya.
Para penggemar karya-karyanya terkejut dengan berita tersebut. Teman-teman
baiknya menitikkan air mata di depan batu nisannya, tidak mempercayai kepergian
Gu Long yang begitu cepat tersebut. Namun, hampir tidak ada seorang pun
sanak-saudara, termasuk wanita-wanita yang pernah pernah satu waktu dekat
dengannya, hadir pada acara penguburannya.
Para profesional menulis untuk mengungkapkan penyesalan mereka akan perginya Gu
Long: Ngai Hong berkata, orang menggunakan Jin Yong sebagai panutan sebelum
munculnya novel-novel Gu Long. Hanya Gu Long yang dapat mendobrak keteladanan
Jin Yong tersebut dan menciptakan sebuah gaya yang baru. Insan televisi dan
dunia film berkomentar bahwa karya Gu Long merupakan sebuah terobosan dalam
sejarah novel-novel cerita silat.
Gu Long tidaklah mati, karena karya-karyanya akan tetap bersama dengan kita,
teristimewa kreativitasnya yang telah memberi kita cara berpikir yang baru.
Karya Lengkap Gu Long
|
Liang Ie Shen (Liang Yusheng)

Liang Ie Shen merupakan nama pena Chen Wuntong. Ia lahir di kabupaten
Mengshan, propinsi Guangxi. Tumbuh dalam sebuah keluarga yang terkemuka, ia
memiliki kesempatan untuk membaca banyak tulisan-tulisan dan puisi-puisi klasik.
Ia mengikuti Profesor Jian Youwun mempelajari sejarah di tahun 1943, dan
kemudian masuk ke Universitas Lingnan untuk belajar ilmu Ekonomi Internasional.
Setelah lulus ia bekerja di surat kabar Sin Wan Bao di Hong Kong, dan tinggal di
sana setelah tahun 1949.
Liang Ie Shen suka membaca novel-novel keksatriaan sejak ia masih kanak-kanak.
Sebagai seorang penulis berbakat yang menaruh minat kepada sejarah dan
kesusasteraan, ia telah menulis banyak kolom, kritik, dan esai dibawah berbagai
nama seperti Liang Hueru dan Fong Yuning.
Pada tahun 1954 Hong Kong mengadakan sebuah perlombaan untuk umum menampilkan
dua sekolah silat terpandang, Taiji dan Baihe. Seluruh kota sangat bergairah dan
menantikannya. Surat kabar, Sin Wan Bao, sehubungan dengan itu mendorong Liang
Ie Shen untuk menulis sebuah serial silat untuk menghibur para pembacanya. Liang
Ie Shen pun mulai menulis novel pertamanya yang diberi judul Longhu Dou Jinghua,
yang sangat sukses di pasaran. Ia pun terus menulis dan menjadi terkenal. Dari
tahun 1954 sampai 1984 ia telah menghasilkan 36 buah buku. Liang Ie Shen diakui
sebagai penulis cerita silat Hong Kong yang paling berpengaruh sama seperti
reputasi yang dimiliki Jin Yong.
Biasanya Liang Ie Shen mengawali novel-novelnya dengan sebuah puisi. Tokoh utama
dalam novel-novelnya serba bisa dan tertarik kepada kesusasteraan. Menggabungkan
kejadiaan-kejadian sejarah dengan kisah-kisah fiksi juga merupakan gaya Liang Ie
Shen. Ia tidak memandang Shaolin dan Wudang sebagai partai silat utama seperti
yang dilakukan penulis-penulis cerita silat lainnya, sebaliknya ia memuja Partai
Tianshan sebagai partai silat yang terutama.
Tiga buah novel karyanya yang ia sendiri paling sukai adalah Pingzong Siaying
Lu, Nyudi Ciying Jhuan, dan Yunhai Yugong Yuan.
Karya Lengkap Liang Ie Shen
1. 1954 Long Hu Dou Jing Thay Kek Kie Hiap Toan I Lelakonnja Dua Saudara
Seperguruan Golongan Thay Kek Pay
2. 1954 Cao Mang Long She Zhuan Thay Kek Kie Hiap Toan II Lelakonnja Dua Saudara
Seperguruan Golongan Thay Kek Pay
3. 1956 Qi Jian Xia Tian Shan Tjhit Kiam Hee Thian San Tujuh Jago Pedang Dari
Thian San
4. 1957 Bai Fa Mo Nu Zhuan Giok Lo Sat - Pek Hoat Mo Lie Wanita gagah perkasa -
Hantu Wanita Berambut Putih
5. 1957 Sai Wai Qi Xia Zhuan Tjauw Guan Eng Hiong Toan Pahlawan-pahlawan dari
Padang Rumput
6. 1957 Jiang Hu San Nu Xia Kang Ouw Sam Lie Hiap Tiga Dara Pendekar
7. 1959 Huan Jian Qi Qing Lu Hoan Kiam Kie Tjeng Sebilah Pedang Mustika
8. 1959 Ping Zong Xia Ying Lu Peng Tjong Hiap Eng Antara Dendam Hati dan Tjinta
Kasih / Pahala dan Murka
9. 1959 Bing Chuan Tian Nu Zhuan Peng Tjoan Thian Lie Bidadari dari Sungai Es
10. 1960 San Hua Nu Xia San Hoa Lie Hiap Pendekar Wanita Penyebar Bunga
11. 1960 Hong Xian Nu Xia Zhuan
12. 1960 Jin Ying Jian
13. 1961 Nu Di Qi Ying Zhuan Lie Tee Kie Eng Pendekar Aneh
14. 1961 Lian Jian Feng Yun Lu Lian Kiam Hong In Kisah Pedang Bersatu Padu
15. 1961 Yun Hai Yu Gong Yuan Yin Han Giok Kong Lu Perjodohan Busur Kemala
16. 1962 Bing Po Han Guang Jian Peng Pok Han Kong Kiam Pedang Inti Es
17. 1963 Bing He Xi Jian Lu Peng Ho Swi Kiam Pedang di Sungai Es
18. 1965 Feng Lei Zhen Jiu Zhou Hong Lui Tjin Kiu Tjiu Geger Dunia Persilatan
19. 1967 Xia Gu Dan Xin Hiat Kut Thian Sin Pendekar Jembel
20. 1963 Da Tang You Xia Zhuan Tay Tong Yoe Hiap Toan Kisah Bangsa Petualang
21. 1964 Long Feng Bao Chai Yuan Liong Hong Poo Tjee Yan Tusuk Konde Pusaka
22. 1964 Tiao Deng Kan Jian Lu Pendekar Latah
23. 1966 Hui Jian Xin Mo Hui Kiam Sim Mo Jiwa Ksatria
24. ? Fei Feng Qian Long Hoei Hong Tjiam Liong Musuh di balik Selimut
25. 1968 Han Hai Xiong Feng Han Hay Hiong Hong Pahlawan Gurun
26. 1968 Ming Di Feng Yun Lu Pendekar Sejati
27. 1969 You Jian Jiang Hu Kelana Buana
28. 1970 Feng Yun Lei Dian
29. 1972 Guang Ling Jian
30. 1972 Mu Ye Liu Xing Patriot Padang Rumput
31. 1972 Wu Lin San Jue
32. 1975 Jue Sai Zhuan Feng Lu Durjana dan Ksatria
33. 1977 Tan Zhi Jing Lei Taruna Pendekar
34. 1980 Wu Dang Yi Jian Bu Tong It Kiam
35. 1984 Kuang Xia, Tian Jiao, Mo Nu Bong Hiap, Thian Kiauw Mo Lie Pendekar
Gila, Tiga Tokoh Naga Sakti
36. 1984 Wu Lin Tian Jiao
37. ? Jian Wang Chen Si
38. ? Huan Jian Ling Qi
Berikut ini urut-urutan penulisan serial Thian San oleh Liang Ie Shen:
01. 1956-1957 Qi Jian Xia Tian Shan - Thian San Cit Kiam - Tujuh Pendekar Dari
Thian San
02. 1957-1958 Sai Wai Qi Xia Zhuan - Cau Guan Eng Hiong - Pahlawan Padang Rumput
03. 1957-1958 Jiang Hu San Nu Xia - Kang Ouw Sam Lie Hiap - Tiga Dara Pendekar
04. 1957-1958 Bai Fa Mo Nu Zhuan - Giok Lo Sat & Pek Hoat Mo Lie
05. 1959-1960 Ping Zong Xia Ying Lu - Peng Cong Hiap Eng - Dua Musuh Turunan
06. 1959-1960 Bing Chuan Tian Nu Zhuan - Peng Coan Thian Lie - Bidadari Dari
Sungai Es
07. 1959-1960 Huan Jian Qi Qing Lu - Hoan Kiam Kie Tjeng - Sebilah Pedang
Mustika
08. 1960-1961 San Hua Nu Xia - San Hoa Lie Hiap - Pendekar Wanita Penjebar Bunga
09. 1961-1962 Lian Jian Feng Yun Lu - Lian Kiam Hong In - Kisah Pedang Bersatu
Padu
10. 1961-1963 Yun Hai Yu Gong Yuan - Perdjodohan Busur Kemala
11. 1962 Bing Po Han Guang Jian - Peng Pok Han Kong Kiam - Pedang Inti Es
12. 1963-1965 Bing He Xi Jian Lu - Peng Ho Swe Kiam - Pedang Di Sungai Es
13. 1965-1967 Feng Lei Zhen Jiu Zhou - Hong Lui Cin Kiu Ciu - Geger Dunia
Persilatan
14. 1967-1969 Xia Gu Dan Xin - Hiat Kut Tan Sin - Pendekar Jembel
15. 1969-1972 You Jian Jiang Hu - Kelana Buana
16. 1972-1975 Mu Ye Liu Xing - Jiwa Ksatria / Anak Pendekar
17. 1972-1976 Guang Ling Jian - Khong Ling Kiam - Pendekar Pemetik Harpa
18. 1975-1978 Jue Sai Zhuan Feng Lu - Durjana dan Ksatria
19. 1976-1980 Jian Wang Chen Si - Jala Pedang Jaring Sutra
20. 1977-1981 Dan Zhi Jing Lei - Taruna Pendekar
21. 1980-1981 Huan Jian Ling Qi - Pedang Bayangan Panji Sakti
WANG DU LU
Wang Du Lu (1909-1977), nama pena dari Wang Bao Siang, lahir dalam sebuah
keluarga Manchuria di Beijing. Dia merupakan seorang penulis Cerita Silat China
yang terkenal sejak tahun 1930-an. Hampir semua karyanya mengambil tema utama
seputar cinta dan tragedi. Ia dikenal sebagai salah satu dari empat orang
pendiri “Penulis-penulis Cerita Silat dari Utara”, sehingga ia telah banyak
mempengaruhi penulis-penulis di masa setelahnya.
Wang Du Lu menulis lebih dari 30 buah novel cerita silat secara keseluruhan.
Yang paling terkenal, dari kesemua novel-novelnya tersebut, adalah lima buah
novel berseri yang secara bersama-sama dikenal dengan sebutan Crane – Iron
Pentalogy. Film “Crouching Tiger, Hidden Dragon” yang sangat terkenal dibuat
berdasarkan buku yang ke-4 dari 5 buku Crane – Iron Pentalogy tersebut.
Wang Du Lu juga terkenal dengan karya-karya cerita silatnya yang “membumi”,
cerita-cerita silatnya selalu didasarkan kepada kenyataan. Tokoh-tokoh dalam
karyanya digambarkan sebagai manusia biasa, yang bisa merasa lapar, sakit flu,
dan kehabisan uang dan bekal. Tidak seperti tokoh-tokoh dalam novel Jin Yong,
Liang Yu Sheng, Gu Long, dan yang lainnya, tokoh dalam novel karya Wang Du Lu
memiliki ilmu yang terbatas. Tokoh yang bisa ilmu menotok jalan darah jumlahnya
sangat sedikit dan sudah dapat dikatakan yang paling hebat. Bahkan dalam salah
satu karyanya (Zi Feng Biao), pendekar yang bisa melempar piau sudah yang paling
hebat. Ilmu tenaga dalam dalam karya Wang Du Lu digambarkan hanya dapat
digunakan untuk melompat sampai ke atap rumah, bahkan seringkali diceritakan
dalam novelnya sang tokoh melompat hanya sampai ujung atap, bergelantung, baru
kemudian naik dan merambat sampai ke atas atap. Adegan dalam film “Crouching
Tiger, Hidden Dragon” di mana sang tokoh Li Mu Bai mampu berdiri tegak di
ranting pohon bambu yang tipis dan berayun-ayun tidak bakalan dan memang tidak
ada dalam cerita aslinya.
Kemenarikan karya-karya Wang Du Lu terdapat dalam kekuatan alur ceritanya,
memanfaatkan suasana konflik sosial dalam masyarakat, yang berlatarbelakangkan
keadaan masyarakat China di bagian akhir jaman dinasti Qing.
Crane – Iron Pentalogy secara lengkap terdiri dari:
| No. | Thn | Pin Yin | Hokkian | Inggris | Indonesia |
| 1. | 1938 | He Jing Kun Lun | Ho Keng Kun Lun | Crane Frightens Kunlun | Hoo Menggentarkan Kun Lun |
| 2. | Bao Jian Jin Chai | Po Kiam Kim Cee | Precious Sword, Gold Hairpin | Pedang Mustika dan Tusuk Kundai Emas | |
| 3. | Jian Qi Zhu Guang | Kiam Kie Cu Kong | Sword Force, Pearl Shine | Pedang Berkelebatan dan Mutiara Berkilauan | |
| 4. | 1941 | Wo Hu Cang Long | Go Houw Cong Liong | Crouching Tiger, Hidden Dragon | Harimau Mendekam dan Naga Bersembunyi |
| 5. | Tie Qi Yin Ping | Tiat Kie Gin Pan | Iron Knight, Silver Vase | Pendekar Besi, Pot (Kembang) Perak |
Tong-hong Giok (Pualam dari Timur)
Biografi singkat :
Penulis cersil Taiwan. Nama asli Tan Giok, nama poyokan Han Shan
Lahir :tahun 1924 di Ciat-kang.
Lulusan Akademi Cheng Ming Shang-hai jurusan Bahasa Cina.
Menjadi Kepala
Penghubung Kelompok Patriotik Pemuda Kementrian Pertahanan Taiwan. Bidang
keahliannya puisi. Tahun 50 mendirikan klub puisi Bwee Ling (Puncak Bwee) dan
menjadi ketua. Juga ditunjuk menjadi anggota dewan riset puisi (?), penasehat
kongres penyair sedunia, sekjen asosiasi pelukis dan
sastrawan Taiwan.
Tahun 1960 sang penyair mencampakkan keindahan puisi menceburkan diri ke dalam vulgarnya rimba persilatan. Menerbitkan karyanya dalam koran "sin seng po".
Karya yang berjudul "tiong ho kim liong/ membebaskan bangau menangkap naga" mengangkat namanya, awalnya menganut "ku huan sian hiap pay/ gaya pendekar dewa gaib ajaib", kemudian berubah menjadi "gak tau hokkiannya... chao jiji xia qing pai/ gaya kasih pendekar super hebat"
Karyanya :
¡¶Éȹ«×Ó¡·San
Kongcu/ Pendekar Kipas Ting Kiam-lam ...dipenggal...
¡¶¹ÕÏÀ¡·Koay Hiap/ Pendekar Penipu (Pendekar Pincang?)
¡¶ÁúËï¡·Liong Sun/ Cucu Naga
¡¶Ê¥µ¶¡·Seng Too/ Golok Suci
¡¶²Êºç½£¡·Cai-ang Kiam/ Pedang Pelangi
¡¶´äÁ«Çú¡·"Cui Lian Qu"/ Tembang Padma Pualam
¡¶¶¾½£½Ù¡·Tok Kiam Kie/ Malapetaka Pedang Beracun
¡¶¶á½ðÓ¡¡·To Kim In/ Merampas Segel Emas
¡¶·ÉÁúÒý¡·Hui Liong In/ Bujukan Naga Terbang
¡¶ôä´ä¹Ù¡·"Feicui Guan"/ Pejabat Pulama Hijau (?)
¡¶»¤»¨½£¡·Hu Hoa Kiam/ Pedang Pelindung Bunga
¡¶¾Åתóï¡·Kiu Cuan Siauw/ Seruling Sembilan Perubahan
¡¶Á÷Ïã¹È¡·Liu Hiang Kok/ Lembah Wangi Semerbak
¡¶Á÷ÏãÁî¡·Liu Hiang Ling/ Perintah Wangi Semerbak
¡¶Áú¸ç¸ç¡·Liong Koko/ Abang Naga
¡¶Ãµ¹å½£¡·Bi Kuei Kiam/ Pedang Mawar
¡¶ÃÔÏÉÇú¡·"Mi Xian Qu"/ Irama Dewa Sesat
¡¶Ç¬À¤½£¡·Kian Kun Kiam/ Pedang Langit Bumi
¡¶Ê¯¹Ä¸è¡·"Shigu Ge"/ Lagu Gendang Batu
¡¶Ë«Óñºì¡·Siang Giok Ang/ Sepasang Merah Pualam
¡¶ÈºÓ¢»á¡·Kun Eng Hwee/ Pasewakan Ksatria Pendekar
¡¶Í¬ÐĽ£¡·Tong Sim Kiam/ Pedang Bersatu Padu
¡¶ÎäÁÖçô¡·Bu-lim Sie/ Cap Rimba Persilatan
¡¶½µÁúÖé¡·Siang Liong Cu/ Menaklukkan Mutiara Naga
¡¶Ðý·ç»¨¡·Suan Hong Hoa/ Kembang Puting Beliung
¡¶Òý½£Öé¡·In Kiam Cu/ Menggoda Mutiara Pedang
¡¶ÕäÖéÁî¡·Cin Cu Ling/ Pendekar Kidal
¡¶×ÏÓñÏã¡·Ci Giok Hiang/ Wangi Pualam Lila
¡¶±±É½¾ªÁú¡·Pek San Keng Liong/ Gunung Utara Mengejutkan Naga
¡¶·üħÁù½£¡·Hok Mo Liok Kiam/ Enam Pedang Penakluk Iblis
¡¶¹ÅÄ«Ðþ¼®¡·Kouw Mo Suan Kie/ Buku Hitam Dawet Kuno
¡¶ºìÏßÏÀ¡·Ang Sian Hiap Lu/ Sepasang Pendekar Sejodoh
¡¶¾©»ªÏÀ×Ù¡·Keng Hoa Hiap Cong/ Jejak Pendekar Ibu Kota
¡¶¿ìµ¶²»·²¡·Kuay Too Put Pan/ Golok Cepat Luar Biasa
¡¶À¼ÁêÆß½£¡·Lan Ling Cit Kiam/ Tujuh Pedang Bukit Anggrek
¡¶Åùö¨Ç¾Þ±¡·Pek Lek Keng Wei/ Mawar Halilintar
¡¶Æß²½¾ªÁú¡·Cit Pou Keng Liong/ Tujuh Langkah Menggetarkan Naga
¡¶ÇéÌìÏÀ¡·Ceng Thian Hiap Lu/ Pasangan Pendekar Ceng Thian
¡¶Éñ½£½ðîΡ·Sin Kiam Giok Chee/ Pedang Sakti Kundai Kumala
¡¶ÎÞÓ°·Éħ¡·Bu Eng Hui Mo/ Iblis Terbang Tanpa Bayangan
¡¶ÎäÁÖ×´Ôª¡·Bu-lim Cong-koan/ Congkoan Rimba Persilatan
¡¶ÏÀؤÇÜÁú¡·Hiap Kay Kim Liong/ Pengemis Pendekar Menangkap Naga
¡¶åÐÒ£ÊéÉú¡·Siauw Yauw Su-seng/ Pelajar Bebas Merdeka
¡¶ÑªÓ°Éñ¹¦¡·Hiat Eng Sin-kang/ Sinkang Bayangan Darah
¡¶Ò»½£µ´Ä§¡·It Kiam Tang Mo/ Satu Pedang Mengguncang Iblis
¡¶×ݺ×ÇÜÁú¡·Tiong Ho Kim Liong/ Membebaskan Bangau Menangkap Naga
¡¶¶«·½µÚÒ»½£¡·Tong Hong Te It Kiam/ Pedang No.1 di Timur
¡¶·ç³¾Èý³ß½£¡·Hong Tin Sam Ci Kiam/ Pedang Tiga Kaki Hong Tin (·ç³¾= travel
fatigue, confusion of the world, world of prostitution)
¡¶»¤»¨½£Ðø¼¯¡·Hu Hoa Kiam Hu Kie/ Lanjutan Pedang Pelindung Bunga
¡¶½ðµÑÓñÜ½ÈØ¡·Kim Tee Giok Hok Yong/ Seroja Pualam Seruling Emas
¡¶¾Å½£±íÐÛ·ç¡·Kiu Kiam Piauw Hiong Hong/ Sembilan Pedang Menatap Angin Keras
¡¶Ì«Òҷֹ⽣¡·Thay Ie Hen Kong Kiam/ Pedang Pembelah Sinar No.2
¡¶ÌúѪӢÐÛµ¨¡·Tiat Hiat Eng Hiong Tan/ Nyali Pendekar Darah Besi
¡¶ÎäÁÖÊ®×Ö¾ü¡·Bu-lim Su Cu Kun/ Pejuang Salib Rimba Persilatan
¡¶Ò»½£ÆÆÌì½¾¡·It Kiam Po Thian Kiauw/ Satu Pedang Menghancurkan Thian Kiauw
(Ìì½¾= lord of a northern tribal group, pilihan langit)
¡¶Ò»½£Ð¡ÌìÏ¡· It Kiam Siauw Thian Hee/ Satu Pedang Kolong Langit Kecil
¡¶½ðÂÆ¼×ÇïË®º®¡·Kim Lou Kee Ciu Suei Han/ Dingin Air Musim Gugur Pelindung
Berenda Emas
¡¶¶«À´½£ÆøÂú½ºþ¡·Tong Lai Kiam Khie Ban Kang Ouw/ Hawa Tong Lai Kiam Memenuhi
Kang Ouw
Mastro Pengarang/penyadur Silat Mandarin di Indonesia
Kwo Lay Yen
Generasi Pertama Penerjemah Kwo Lay Yen atau Tan Tek Ho lebih dikenal
memiliki beberapa nama samaran: Kwo Lay Yen (Si Mahir), Bong Kok No (Budak Tanpa
Negara) dan Hoh Hoh Sianseng (Tuan Harmoni).
Ia lahir di Bandung pada 1894. Tek Ho menempuh pendidikan dasar di Bandung dan
Batavia, kemudian melanjutkan ke Nanking (Nanjing). Kembali ke Indonesia ia
menjadi wartawan Sin Po. Pada 1920-an menjadi Redaksi Kepala (Hoofd-redacteur)
untuk Sin Po Oost-Java Editie.
Sesudah Oost-Java Editie ditutup, ia kembali ke Bandung dan sepenuhnya menjadi
penerjemah cerita silat. Karya terjemahannya yang membuat dia terkenal adalah
Riwajat Djago Silat karya Siang Khay Yan (Xiang Kairan) dan Tai Beng Kie Hiap
karya Sie Leng Hong (Xi Lingfeng).
Ia mengepalai berkala Goedang Tjerita (Bandung, 1929) yang kemudian diambil alih
sepenuhnya dan diganti namanya menjadi Tjerita Silat pada 1932. Ketika Jepang
masuk, ia ditahan di Sukamiskin, kemudian di Cimahi dan baru bebas ketika Jepang
jatuh.
Salah satu terjemahan Kwo Lay Yen terbaik adalah Tjoe Bo Kim So karya The Tjeng
In (Zheng Zhengyin) yang dimuat di Goedang Tjerita sejak 1948. Ia meninggal di
Bandung pada 1949.
Ia menguasai aktif bahasabahasa Belanda, Cina, Inggris dan Melayu. Karena
pengalamannya sebagai wartawan, maka hasil terjemahannya mengalir dengan lancar
dan lebih ketat mengikuti kaidah Bahasa Indonesia daripada Melayu (Rendah).
Hanya saja penguasaannya atas dialek Hokkian sangat kurang. Ini tampak dari nama
samaran yang digunakannya lebih banyak menggunakan ejaan nasional daripada
Hokkian.
Selama hidupnya ia telah menerjemahkan lebih dari 50 judul cerita silat dan
selusin novel Eropa.
Tjan ID

Trims koreksinya langsung dari suhu Tjan ID sekaligus kiriman fotonya
Tjan Ing Djoe, spesialis karya Khu Lung. Tjan Ing Djoe lebih dikenal dengan
Tjan ID.
Dari jumlah buku yang pernah disadur atau diterjemahkan dari bahasa aslinya,
Tjan ID menerjemahkan tidak kurang dari 93 judul yang setara dengan hampir 2.188
jilid cerita silat. Lahir pada 1949, pernah masuk sekolah dasar Tionghoa 6
tahun. Ibunya guru sekolah Tionghoa. Sesudah sekolah Tionghoa ditutup, Tjan
pindah ke sekolah Indonesia. Setelah lulus SLTA, ia masuk perguruan tinggi di
Semarang. Tjan mulai menerjemahkan cerita silat di
usia 19 saat kuliah di Fak. FISIP Universitas Diponegoro Semarang.
Pada awal karier penulisannya Tjan banyak dibantu oleh OKT yang juga
mengajarinya teknik menerjemahkan dari bahasa Cina.
"Karya terjemahan saya yang pertama bukan Golok Kumala hijau di tahun 1974, tapi "Tujuh Pusaka Rimba Persilatan" di tahun 1969. Selain OKT, pertama kali menulis saya banyak belajar dari Kho Ping Ho, sering saya datang ke villa nya di Tawangmangu untuk menimba ilmu darinya. Terima kasih atas perhatiannya : koreksi dari suhu Tjan ID "
Tjan ID juga seorang yang
unik. Tak seperti para penerjemah lainnya, walau produktif, Tjan tidak pernah
memakai kertas karbon ketika mengetik untuk naskah terjemahannya. Akibatnya
ketika gelora penerjemahan cerita silat kembali muncul, Tjan ID harus kehilangan
sebagian besar naskah karyanya yang hilang atau habis dimakan rayap.
Sekitar 20 karya Khu Lung telah diterjemahkannya sekaligus membawanya sebagai
penerjemah spesialis karya Khu Lung. Ia terkenal sebagai penerjemah yang sangat
setia pada naskah aslinya. Karya terjemahan cerita silat terakhirnya baru saja
diluncurkan Oktober ini atas kerja sama dengan Masyarakat Tjersil, berjudul
Bunga Pedang, Embun Hujan, Kanglam, masih terjemahan dari karya Khu Lung. yang
terakhir Pedang Tetesan Air Mata, terbitan 1982. Karya terjemahannya ada 7-80
buah, termasuk karya-karya yang ditulis oleh Qm Hong, Gu Du Hong, Wo Long Sheng,
dan Chen Jing Yun. Namun, di antaranya masih karya Gu Long yang terbanyak.
Ada yang mengatakan, terjemahan Tjan I.D. masih sangat banyak mengandung
unsur bahasa Tionghoa. Oleh sebab itu, pembacanya yang begitu banyak adalah
orang keturunan Tionghoa yang masih menguasai sedikit bahasa Tionghoa. Bagi
orang yang sudah tidak mengenal bahasa Tionghoa akan mengalami sedikit kesulitan
membaca karya terjemahan Tjan I.D. Pada kenyataannya, Tjan I.D. pernah selama
enam tahun mendapat pendidikan sekolah lanjutan Indonesia. Jadi, penggunaan bahasa Indonesianya tidak lemah.
Dibandingkan dengan karya Oey Kim Tiang, bahasa Tjan lebih mendekati bahasa
Indonesia membuat terjemahannya lebih dekat dengan pembaca muda. Akan tetapi, bahasa terjemahan Tjan sering memakai terlalu banyak
istilah Tionghoa, lagipula ditambah dengan masalah penerbitnya yang tidak
mementingkan kualitas (misalnya, cetakan dan tanda-tanda baca yang tidak jelas,
seakan-akan seperti tidak melalui proses "editing"). Tetapi masalah penerbitan
bukan kesalahan Tjan.
Saat ini Tjan ID tinggal di Semarang. Kini ia berkarya lagi untuk mengangkat
kembali popularitas cerita silat di tanah air. Sembari menerjemahkan, ia sibuk beternak
ayam.
OKT
kz.jpg)
Oey Kim Tiang atau O.K.T adalah penterjemah cerita silat yang sangat
produktif, beliau lahir dalam keluarga peranakan Cina generasi ke enam di
Tangerang. Tahun kelahirannya 1903, dan di kota Tangerang pula beliau wafat
dalam usia 92 tahun. Karena lanjut usia dan sering sakit, pada 1980-an, Oey
sudah jarang menulis. la meninggal 8 Maret 1995. la pernah bersekolah Tiong Hoa
Hwee Koan setempat sampai tingkat SLTP. Penerjemah terkenal sebelum perang, Ong
KimTiat, adalah gurunya. Sebenarnya sejak sebelum Perang, Oey Kim Tiang sudah
mulai menerjemahkan cersil dan novel-novel detektif. Selama hidupnya, almarhum telah menterjemahkan lebih dari
100 karya terjemahan dari dialek Hokkian ke dalam bahasa Melayoe Pasar atau
Melayoe Rendah.Dalam menterjemahkan, O.K.T menjaga konsistensinya dalam
mempertahankan kosa kata Hokkian dalam istilah-istilah tertentu sangat kuat.
Penggunaan bahasa dalam cerita silat terjemahan tersebut bahasanya sangat lentur
dan hidup dalam menuturkan (menceritakan) kisah-kisah yang penuh aksi, dan
pembaca dibawa dalam imajinasinya, sehingga seolah-olah pembacanya mengalami
sendiri kejadian lepas kejadian dalam kisah silat tersebut. Meskipun Oey cuma
berpendidikan setingkat SLTP di Tiong Hoa Hwee Koan dan tidak melanjutkan lagi,
tetapi dasar bahasa Tionghoanya tidak lemah. Di antara penerjemah cersil
Tionghoa peranakan, Oey satu-satunya penerjemah syair dalam cersil ke dalam
bahasa Indonesia.
Kalau diperhatikan, O.K.T seringkali tidak menganut kaidah bahasa Indonesia,
tetapi justru hal tersebutlah yang membuat pembaca mengalami pengayaan dan
menambah wawasan dalam pengenalan kosakata dari bahasa Sunda dan Jawa.
Terjemahannya berusaha mempertahankan makna syair aslinya. Akan tetapi, demi
irama sajaknya, ia kadang-kadang memakai cara terjemahan tidak lazim. Misalnya
ia mener-jemahkan "San Qiu" menjadi "di musim TJioe", yang sebenarnya, "di musim
gugur" atau "di musim rontok". Demi mempertahankan irama sajaknya, ia
menerjemahkan "Changjiang" menjadi "sungai Tiang Kang", yang sesungguhnya,
"sungai Yang Tse" yang lebih dikenal orang. Meskipun demikian, Oey telah
membuang banyak waktu untuk mengerjakan terjemahan syair-syair dalam karyanya.
Di samping menerjemahkan karya-karya Liang Yusheng dan Jin Yong, Oey juga
meneijemahkan cersU Ti Feng dan Wang Du Lu. la berpendapat, karya-karya Wang Du
Lu sebaik karya Jin Yong. Ketika bekerja di Keng Po, Oey meneijemahkan lima buah
karya Wang Du Lu (yaitu Po Kiam Kim Tje, Kiam Kie Tjoe Kong, Go Houw Tjhong
Liong, Tiat Kie Gin Pan dan Ho HengKoen Loen) dan dimuat secara bersambung di
suratkabartersebut Setelah tamat cersil-cersil itu segera diterbitkan dalam
bentuk buku saku.
Bersama saudaranya, Oey An Siok, dengan nama
Boe Beng Tjoe, ia meninggalkan monumen Trilogi
Rajawali Kim Yong (Jin Yong) jang telah menguasai emosi jutaan orang pembaca di
seluruh dunia.
Boe Beng Tjoe
Oey An Siok adalah kerabat dekat OKT (Oey Kim Tiang), bahkan ia menggunakan
salah satu nama samaran OKT, Boe Beng Tjoe dalam karya-karya terjemahannya.
Bersama OKT ia menghasilkan Sin Tjioe Eng Hiap (Binasanya Satu Kaisar), dan Sin
Tiauw Hiap Lu, sedang terjemahan yang dikerjakannya sendiri adalah San Hoa Lie
Hiap, Peng Tjoan Thian Lie (Bidadari dari Sungai Es), Swat San Hoei Ho (Si Rase
Terbang dari Pengunungan Salju), dan Ie Thian To Liong (Kisah Membunuh Naga).
Lahir pada tahun 1915 di Tangerang, ia memperoleh pendidikan di THHK dan
kemudian Overseas Chinese Institute, keduanya di Jakarta. Ia memulai karirnya di
Keng Po dan sewaktu Keng Po ditutup, melanjutkannya di Harian Pos Indonesia dan
Mingguan Djaja, sebelum kemudian membantu Rumah Sakit Husada di Jakarta juga.
Jabatan terakhirnya di sana adalah Direktur Administrasi.
Gan KL
z.jpg)
Gan Kok Liang yang lebih dikenal dengan sebutan Gan KL adalah salah satu
sastrawan, selain Oey Kim Tiang alias OKT, yang memperkenalkan cerita-cerita
silat Tiongkok di Indonesia. Telah dibawanya ke bumi Indonesia karya-karya tiga
pengarang silat Tiongkok terkenal: Jin Yong, Gu Long, dan Liang Yusheng.
Gan KL merupakan anak pertama dari delapan bersaudara, putra dari Gan Swie Pie
dan Phoa Leng Keng. Ia lahir di Xiamen, China, 14 Agustus 1928 silam dan dibawa
orangtuanya ke Indonesia pada tahun 1938 pada usia 10 tahun, saat tentara Jepang menguasi Xiamen.
Mereka mendarat di Surabaya dan kemudian menetap di Kutoarjo, Jawa Tengah.
Sekitar tahun 1948 Jepang menguasai Kutoarjo dan keluarga Gan KL pun kembali
harus mengungsi dan mereka akhirnya menetap di Semarang.
la tidak pernah menerima pendidikan formal, tetapi mampu berbahasa Tionghoa
dan Indonesia. Sebelum menerjemahkan cersil, ia pernah melakukan bermacam-macam
pekerjaan. la pernah menjadi penjual keliling, pernah juga menjadi sopir mobil.
Ketika berusia tigapuluh tahun baru ia mulai menulis. Sampai 1980-an ia telah
menghasilkan lebih dari 40 buah karya terjemahan.
Tahun 1958, Gan KL mengirimkan karya sadurannya yang pertama berjudul Pendekar
Padang Rumput (Sai Wai Qi Xia Chuan/Tjhau Goan Eng Hiong ) buah karya Liang Yusheng, yang berkisah
tentang perjuangan suku minoritas di Sin Kiang melawan kaum penjajah, ke harian
Sin Po tempat ia bertugas. Karena lebih muda dari Oey, kalimat-kalimat yang
dipakai Gan lebih mendekati bahasa Indonesia. Dengan kata lain, "Melayu
Tionghoa" Gan tidak setebal Oey. Gan Kok Liang memakai nama Gan K.L. pada
karyanya.Karena lebih muda dari Oey, kalimat-kalimat yang dipakai Gan lebih
mendekati bahasa Indonesia. Dengan kata lain, "Melayu Tionghoa" Gan tidak
setebal Oey. Gan Kok Liang memakai nama Gan K.L. pada karyanya. Kisah sadurannya itu rupanya digemari banyak orang, sehingga Gan KL
memutuskan untuk meninggalkan pekerjaannya saat itu sebagai auditor akuntansi PT
Oei Tiong Ham Concern untuk bekerja sepenuhnya menulis cerita silat. Tahun 1961
Gan KL mulai menerbitkan karyanya sendiri dan mengedarkannya ke toko-toko buku,
selain menerbitkannya di surat kabar.
Di samping menerjemahkan novel liang Yusheng, Gan K.L. juga menyalin karya Jin Yong, di antaranya: Sin Tiauw Hiap Lu, To Liong To, Siauw Go Kang Ouw, Thian Liong Pat Poh dan Soh Kim Kiam. Tidak sedikit pula ia menerjemahkan karya Gu Long. Seluruhnya ada sepuluh buah, termasuk Keajaiban Negeri Es, Pendekar Harum, Renjana Pendekar dan Pendekar Setia. Namun, karya terjemahannya yang terkenal adalah Pendekar Binal karya Gu Long yang dikerjakannya pada 1970-an. Pendekar Binal itu terdiri atas tiga bagian. Bagian pertama berjumlah 20 jilid, berjudul: Pendekar Keras Kepala, bagian kedua berjumlah 18 jilid, berjudul: Kesetiaan Pendekar Keras Kepala, bagian ketiga juga berjumlah 20 jilid, berjudul: Kebahagiaan Pendekar Keras Kepala. Pada 1978 suratkabar Kompas pernah memuat resensi, tulisannya meinberikan penilaian yang tinggi. Penilai menganggap ini adalah karya Gan K.L. yang terbaik.
Karena Gan K.L. tidak mencantumkan nama Gu Long, para pembaca berbahasa
Indonesia masih menganggap ini adalah karya cipta Gan K.L. (pada 1992 Pendekar
Binal dicetak ulang dan nama Gu Long dicantumkan sebagai pengarang aslinya).
Kebiasaan tidak mencantumkan nama penulis asli adalah warisan peninggalan
sebelum PD II. Akan tetapi, kebiasaan jelek ini tidak diketahui dengan jdas,
mungkin untuk meng-hindari pembayaran royalti kepada pengarang asli, mungkin
demi kebebasan supaya pener-jemah tidak perlu terikat pada naskah asli.Kebiasaan
tidak mencantumkan nama penulis asli adalah warisan peninggalan sebelum PD II.
Akan tetapi, kebiasaan jelek ini tidak diketahui dengan jdas, mungkin untuk
meng-hindari pembayaran royalti kepada pengarang asli, mungkin demi kebebasan
supaya pener-jemah tidak perlu terikat pada naskah asli.
Gan KL berhenti menerjemahkan cerita silat tahun 1986 seiring dengan menyurutnya
minat pembaca cerita silat. Ia beralih profesi terjun ke bidang hukum dan
membuka kantor konsultan hukum yang memberi jasa pengurusan naturalisasi warga
negara asing menjadi warga negara Indonesia. Gan KL yang memiliki hobi membaca
dan menyanyi ini dikaruniai lima orang anak dari pernikahannya dengan Tan Bie
Nio.
Karya penerjemah yang meninggal pada 2003 itu mencapai lebih dari 50 judul dan
hampir semua ceritanya panjang. Karyanya yang akan dikenang terus antara lain
adalah Tiga Dara Pendekar (Jianghu Sannuxia) karya Liang Yushen, Rahasia Putri
Harum (Suqian wenshou lu) dan Hina Kelana (Xiao’ao Jianghu) karya Jin Yong, dan
Pendekar Binal (Juedai shuangjiao) (1980) karya Gu Long.
Gan KH

Gan Kok Hwie yang lebih dikenal Gan KH lebih terlihat sebagai pribadi yang
santai dan penuh canda. Gan Kok Hwie, santai dan berapi-api berbeda dengan
kakaknya Gan Kok Liang. Memulai karier sebagai penerjemah karena menuruti
jejak Gan KL, sang kakak, ia telah menerjemahkan tidak kurang dari 30 judul
cerita silat sampai saat ini.
Gan KH saat ini tinggal di Semarang dan sehari harinya sangat aktif dalam
kegiatan kelenteng di Tay Kak Sie Semarang. Ia masih sangat berapi-api ketika
berbicara tentang zaman kejayaan cerita silat dulu. Ia masih mengingat satu per
satu karya yang pernah diterjemahkannya. Para penggemar cersil akan selalu
mengenang Gan KH sebagai salah satu penerjemah terbaik cerita-cerita karya Khu
Lung atau Gu Long.
Di antaranya adalah serial Pendekar Harum dan saga Salju Merah. Pada 2005 ini
Gan KH kembali menerjemahkan dan buku yang paling akhir terbit adalah masih dari
salah satu karya Khu Lung yang diberi judul Pukulan si Kuda Binal. Gan KH
berjanji akan terus menerjemahkan demi untuk mempopulerkan kembali cerita silat
seperti di zaman jayanya dulu.
ASMARAMAN S. KHO PING HOO

Kho Ping Hoo atau Asmaraman Sukowati Kho Ping Hoo
Dia legenda pengarang cerita silat. Kho Ping Hoo, lelaki peranakan Cina
kelahiran Sragen, Jawa Tengah, 17 Agustus 1926, yang kendati tak bisa membaca
aksara Cina tapi imajinasi dan bakat menulisnya luar biasa. Selama 30 tahun
lebih berkarya, dia telah menulis sekitar 400 judul serial berlatar Cina, dan 50
judul serial berlatar Jawa.
Bahkan setelah dia meninggal dunia akibat serangan jantung pada 22 Juli 1994 dan
dimakamkan di Solo, namanya tetap melegenda. Karya-karyanya masih dinikmati oleh
banyak kalangan penggemarnya. Bahkan tak jarang penggemarnya tak bosan membaca
ulang karya-karyanya. Kho Ping Hoo bernama lengkap Asmaraman Sukowati Kho Ping
Hoo.
Dia juga banyak mengajarkan filosofi tentang kehidupan, yang memang disisipkan
dalam setiap karyanya. Salah satu tentang yang benar adalah benar, dan yang
salah tetap salah, meski yang melakukannya kerabat sendiri. Kho Ping Hoo berasal
dari keluarga miskin. Dia hanya dapat menyelesaikan pendidikan kelas 1
Hollandsche Inlandsche School (HIS). Namun, ia seorang otodidak yang amat gemar
membaca sebagai awal kemahirannya menulis.
Ia mulai menulis tahun 1952. Tahun 1958, cerita pendeknya dimuat oleh majalah
Star Weekly. Inilah karya pertamanya yang dimuat majalah terkenal ketika itu.
Sejak itu, semangatnya makin membara untuk mengembangkan bakat menulisnya.
Banyaknya cerpenis yang sudah mapan, mendorongnya memilih peluang yang lebih
terbuka dalam jalur cerita silat. Apalagi, silat bukanlah hal yang asing
baginya. Sejak kecil, ayahnya telah mengajarkan seni beladiri itu kepadanya,
sampai 1959 baru ia berusaha "menciptakan" cersil. Cersilnya bukan saja populer
sebagai cerita bersambung di majalah, melainkan ia sendiri pun menerbitkan dalam
bentuk buku saku. Penerbit Gema di Solo adalah usaha yang dibangunnya. Selama 30
tahun, ia menulis 120 buah karya. Menurut pengakuannya, di antara karya-karyanya
ada sebuah yang beijudul Bunga Teratai Emas yang merupakan karya terjemahan,
sedangkan yang lain adalah ciptaannya.
Karya cerita silat pertamanya adalah Pedang Pusaka Naga Putih, dimuat secara
bersambung di majalah Teratai. Majalah itu ia dirikan bersama beberapa pengarang
lainnya. Saat itu, selain menulis, ia masih bekerja sebagai juru tulis dan kerja
serabutan lainnya, untuk bisa memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari.
Namun, setelah cerbung silatnya menjadi populer, ia pun meninggalkan pekerjaanya
sebagai juru tulis dan kerja serabutan itu, dan fokus menulis. Hebatnya, ia
menerbitkan sendiri cerita silatnya dalam bentuk serial buku saku, yang ternyata
sangat laris.
Cerita silatnya pun makin bervariasi. Tak hanya cerita berlatar Cina, tetapi
juga cerita berlatar Jawa, di masa majapahit atau sesudahnya. Bahkan, selain
secara gemilang memasukkan makna-makna filosofis, dia pun menanamkan ideologi
nasionalisme dalam cerita silatnya.
Karya-karya Kho Ping Hoo, umumnya boleh dikatakan terbagi atas cersil, "novel sejarah" Jawa, novel spionase dan novel percintaan. "Novel sejarah" Jawanya konon dibandingkan dengan karya penulis pribumi ditulisnya lebih dini, mutunya pun cukup tinggi. Novelnya yang berjudul Darah Mengalir di Borobudur paling menyenangkan untuk selera semua orang. Novel ini menampilkan dua tokoh yang mengesankan: Raden Pancapanadan Indrayana. Teater di Jawa sudah mengubah novel ini menjadi sendratari dan dipentaskan berulang kali. DiJawa, ada grup pertunjukan yang disebut "Siswo Budoyo" yang dipimpin oleh Cokrojiyo, yang gemar mengubah bermacam-macam novel sejarah Kho Ping Hoo menjadi sandiwara radio. Di samping Darah Mengalir di Borobudur, novel sejarah Badai di Laut Selatan mendapat sambutan juga.
Meskipun Kho Ping Hoo pernah menulis "novel sejarah" Jawa dan telah mendapat
penghargaan yang tinggi atas usahanya, tetapi Jumlah karya yang terbesar dan
yang membuat Kho terkenal adalah cersil.
Latar belakang cersil Kho Ping Hoo ada yang di Tiongkok, dan ada juga yang di
Indonesia. Lantaran Kho Ping Hoo tidak mempunyai dasar bahasa Tionghoa, maka ia
tidak mampu menyalin cersil Tionghoa. Namun, dengan membaca cersil-cersilnya,
orang mendapat kesan, Kho menguasai benar kisah cersil Tionghoa. la juga tahu
tentang sejarah dan kebudayaan Tionghoa, walaupun kadangkala ia keliru tentang
tahun-tahun dinasti Tiongkok.
Jika diamati dengan saksama, seseorang yang pernah membaca cersil dan menonton beberapa film kungfu yang berdasarkan karya Ni Kuang dan Gu Long, kelihatanjalan ceritanya banyak persamaan, penyelesaiannya pun sangat miirip. Jadi, ketika Kho Ping Hoo menulis cersil pasti dipengaruhi kedua orang penulis tersebut.
Kho Ping Hoo dalam cersilnya sering membicarakan perkawinan campur
Tionghoa-Indonesia, meskipun ini dianjurkan tetapi mesti didasarkan percintaan.
Kho mengharapkan para pembaca bisa menerima manfaat yang terkandung di dalam
cersilnya. Menggunakan cersil untuk memberi "kuliah" ini mirip dengan novel
peranakan yang terbit pada awal abad kedua-puluh. Cara ini jarang ditemui pada
cersil-cersil terjemahan. Mungkin ada hubungan dengan situasi Indonesia ketika
itu. Pada akhir 1980, di Indonesia baru saja terjadi peristiwa rasialis. Kho
Ping Hoo pernah menganjurkan perkawinan campur Tionghoa-Indonesia untuk
menyelesaikan bermacam-macam masalah rasial.
Tujuannya menulis cerita silat, adalah untuk mengeluarkan isi hatinya dan
menyampaikan saran-sarannya. la tidak berani mengeritik langsung pejabat
pemerintah dan pegawai negeri yang korup. Akan tetapi dalam cersil-cersilnya, ia
dapat mengatakan apa yang ia ingin sampaikan, tanpa mempertimbangkan hal-hal
yang lain.
MAESTRO PENGARANG SILAT INDONESIA
SINGGIH HADI MINTARDJA
(26 Januari 1933 – 18 Januari 1999)

Semasa hidupnya, SH Mintardja lebih banyak dikenal sebagai penulis cerita
bersambung serial silat dengan setting kerajaan Mataram zaman Sultan Agung di
beberapa surat kabar, seperti Harian Bernas berjudul Mendung di Atas Cakrawala
dan Api Di Bukit Menoreh di Kedaulatan Rakyat. Episode terakhir yang hadir di
hadapan pembaca Harian Bernas adalah episode ke 848 Mendung di Atas Cakrawala.
Setamat SMA, SH Mintardja yang lahir di Yogya 26 Januari 1933, bekerja di Bagian
Kesenian Jawatan Kebudayaan (1958), terakhir bekerja di Bidang Kesenian Kanwil
Depdikbud DIY (pensiun 1989). Beberapa cerita roman silat yang digali dari
sejarah di kerajaan Jawa telah ditulis SH Mintardja – yang oleh kerabatnya akrab
dipanggil dengan nama Pak Singgih — sejak tahun 1964. Berbekal pengetahuan
sejarah, ditambah mendalami kitab Babat Tanah Jawi yang beraksara Jawa, lahirlah
cerita Nagasasra Sabuk Inten. Kisah berlatar belakang kerajaan Demak itu
melahirkan tokoh Mahesa Jenar. Karena cerita Nagasasra sebanyak 28 jilid begitu
meledak di pasaran dan amat digandrungi pembaca, banyak orang yang terkecoh
dengan cerita roman sejarah itu. Banyak yang mengira Mahesa Jenar benar-benar
ada dalam sejarah Demak.
Akibatnya, tim sepakbola asal Semarang pun dinamakan Tim Mahesa Jenar. Mungkin
dengan nama itu Wong Semarang berkeinginan kiprah tim sepakbola sehebat Mahesa
Jenar dengan pukulan “Sasra Birawa”-nya yang menggeledek. ”Padahal saya
memperoleh nama itu begitu saja. Rasanya kalau diucapkan sangat indah dan kalau
didengar kok enak,” ujar Mintardja dalam pengakuannya di buku Apa dan Siapa
Orang Yogyakarta, edisi 1995.
Buku Nagasasra belum surut dari pasaran, SH Mintardja membuat kisah Pelangi di
Langit Singasari (dimuat di Harian Berita Nasional tahun 1970-an) kemudian
dilanjutkan dengan serial Hijaunya Lembah dan Hijaunya Lereng Pegunungan.
Agaknya suami Suhartini yang tinggal di Kampung Daengan, Gedongkiwo, Yogya ini
tidak pernah mengenal lelah. Pada tahun 1967 menggelindingkan Api di Bukit
Menoreh mengambil kisah berdirinya kerajaan Mataram Islam. Di sana ada tokoh
Agung Sedayu, Swandaru, Kyai Gringsing, Sutawijaya, dan paling terakhir adalah
Glagah Putih dan Rara Wulan — saudara sepupu sekaligus murid Agung Sedayu.
Ada sementara penggemar cerita SH Mintardja yang bilang, bila dijajarkan, maka
cerita Api di Bukit Menoreh panjangnya melebihi jarak Anyer – Panarukan. Asal
tahu saja, kisah itu memang lebih dari 300 jilid (buku) dan hingga akhir
hayatnya kisah itu belum selesai. Dan masih ada puluhan serial cerita kecil
lainnya yang dibuatnya.
Di sisi lain, Mintardja pun berusaha menulis kisah petualangan pendekar pembela
kebenaran yang lebih pop. Kisah itu tidak terlalu keraton sentris, namun
berusaha digali dari kisah kehidupan sehari-hari dengan setting masa lalu, ya
apalagi kalau tidak jauh dari kerajaan-kerajaandi Tanah Jawa. Kisah seperti
Bunga di Atas Batu Karang yang mengisahkan masuknya pengaruh Kumpeni Belanda ke
Bumi Mataram; kemudian serial Mas Demang yang “hanya” mengisahkan anak seorang
demang. Dan terakhir adalah tokoh Witaraga dalam kisah Mendung di Atas
Cakrawala, mantan prajurit Jipang yang kalah perang yang berusaha menemukan
jatidirinya kembali dengan mengabdi pada kebenaran dan welas asih.
Perkenalkan budaya
Ada yang khas dari seluruh kisah yang ditampilkan SH Mintardja. Ia berusaha
menyelipkan pesan-pesan moral di dalamnya. Bahkan di dalamnya juga diperkenalkan
beberapa kebudayaan Jawa yang mungkin saat ini mulai punah. Sebagai contoh
adalah ungkapan rasa syukur menjelang panen padi di desa-desa. Upacara “wiwit”
yang berarti “mulai” (panen), berupa pesta kecil di tengah sawah, beberapa kali
dengan jelas ditampilkan dalam beberapa ceritanya. Adat kebiasaan “mitoni” atau
“sepasaran” dalam menyambut kelahiran bayi di masyarakat Jawa pun dengan pas
digambarkannya.
Banjir darah tidak selalu dijadikan penyelesaian akhir untuk menentukan bahwa
yang benarlah yang menang. Ada penyelesaian akhir yang lebih pas. Bertobat,
tanpa harus ada yang terbunuh. Bahkan ayah 8 anak, empat putra dan empat putri
serta kakek 12 cucu ini, sejalan dengan usia dan perkembangan zaman, kematangan
menulisnya pun semakin tercermin di dalam kisahnya. Jika pada kisah Nagasasara
Sabuk Inten dan Pelangi di Langit Singsari masih menggunakan bahasa “tuan” untuk
menyebut anda ataupun engkau, maka pada Api di Bukit Menoreh dan kisah lainnya,
kata “tuan” itu sudah raib dari kamus kosa katanya.
Entah terpengaruh oleh film atau karena melihat anaknya berlatih silat, untuk
menggambarkan serunya sebuah pertarungan tidak lagi digambarkan dengan angin
yang menderu-deru dan desingan senjata; namun lebih masuk akal. Gambaran teknik
bela diri murni digunakan di karya-karyanya yang terakhir. Bila akhir dari
sebuah pertempuran memang harus dengan tenaga dalam, ya itu tadi, pembaca
lagi-lagi dibawa berkhayal melihat benturan ilmu maha dahyat yang bobotnya
melebihi granat. Ya, namanya saja cerita.
Ternyata, selain mengarang cerita silat atas kehendaknya sendiri, SH Mintardja
juga tidak menolak cerita pesanan, misalnya, untuk pementasan ketoprak. Beberapa
cerita sempalan seperti Kasaput ing Pedhut, Ampak-ampak Kaligawe, Gebranang ing
Gegayuhan merupakan cerita serial ketoprak sayembara yang disiarkan TVRI
Yogyakarta.
Karya
SH Mintardja telah menulis lebih dari 400 buku. Cerita berseri terpanjangnya
adalah Api di Bukit Menorehyang terdiri dari 396 buku. Berikut ini daftar
beberapa karya sang pengarang itu:
Api di Bukit Menoreh (396 episode)
Tanah Warisan (8 episode)
Matahari Esok Pagi (15 episode)
Meraba Matahari (9 episode)
Suramnya Bayang-bayang (34 episode)
Sayap-sayap Terkembang (67 episode)
Istana yang Suram (14 episode)
Nagasasra Sabukinten (16 episode)
Bunga di Batu Karang (14 episode)
Yang Terasing (13 episode)
Mata Air di Bayangan Bukit (23 episode)
Kembang Kecubung (6 episode)
Jejak di Balik Bukit (40 episode)
Tembang Tantangan (24 episode)
Berpulang
Kini SH Mintardja telah tiada. Mungkin banyak penggemar karya-karyanya yang
ikut sedih dan kecewa karena kisah-kisahnya masih menggantung di tengah jalan.
“Tapi semua memang kehendak Yang Maha Agung. Kita tidak dapat menolaknya,”
begitu sepenggal pesan moral SH Mintardja yang sering dia tulis dalam berbagai
karyanya.
Penulis cerita bersambung Singgih Hadi Mintardja atau lebih dikenal dengan nama
SH Mintardja, Senin (18/1/1999) lalu, meninggal dunia. Almarhum menghembuskan
nafas terakhir di hadapan anggota keluarganya, Senin, pukul 11.39 WIB di Rumah
Sakit Bethesda, Yogya, dalam usia 66 tahun. Jenazah SH Mintardja dimakamkan
Selasa (20/1/1999) pukul 15.00 WIB di pemakaman Kristen Arimatea, Mergangsan,
Yogyakarta.
Almarhum dirawat di RS Bethesda sejak Sabtu 26 Desember 1998, karena menderita
sakit jantung.
Bastian Tito
(23 Agustus 1945–2 Januari 2006)

Adalah seorang penulis cerita silat asal Indonesia. Karyanya yang paling terkenal adalah Wiro Sableng. Ia mulai tekun menulis sejak duduk di bangku SD kelas 3. Karyanya mulai diterbitkan sejak tahun 1964 dan Wiro Sableng sendiri, yang ditulisnya berdasarkan rekaan ditambah bacaan buku sejarah Tanah Jawa mulai terbit pada tahun 1967. Selain Wiro Sableng, karya lainnya yang ia tulis antara lain adalah Boma si Pendekar Cilik dan fiksi bernuansa Minang berjudul Kupu-kupu Giok Ngarai Sianok. Bastian meninggalkan lima orang anak, yang salah satunya adalah Vino Bastian, seorang aktor film.
RA KOSASIH

Raden Ahmad Kosasih (Bogor, Jawa Barat, 1919) adalah seorang penulis dan penggambar komik termasyhur dari Indonesia. Generasi komik masa kini menganggapnya sebagai Bapak Komik Indonesia
Karya-karyanya terutama berhubungan dengan kesusastraan Hindu (Ramayana dan
Mahabharata) dan sastra tradisional Indonesia, terutama dari sastra Jawa dan
Sunda. Selain itu beliau juga menggambar beberapa komik silat yang memiliki
pengaruh Tionghoa, namun tidak terlalu banyak.
Kosasih mulai menggambar pada tahun 1953 lalu ia mulai berhenti dan pensiun pada
tahun 1993. Kosasih terutama menggambar sketsa-sketsa hitam-putih tanpa memakai
warna.
Kosasih memulai kariernya pada penerbit Melodi di Bandung. Namun karya-karyanya
yang terkenal diterbitkan oleh Maranatha. Akhir-akhir ini pada dasawarsa tahun
1990-an karya-karyanya diterbitkan ulang oleh Elex Media Komputindo dan penerbit
Paramita di Surabaya.
Karya:
Sri Asih (1950)bisa dianggap sebagai superhero Indonesia yang pertama.
Siti Gahara
Ramayana
Mahabharata
Ganes TH

Ganes TH. (1935-1995) nama lengkapnya Ganes Thiar Santoso Ganes lahir pada
tanggal, 10 Juli 1935, di Tanggerang, anak ke 4 dari 5 bersaudara. Terlahir dari
seorang ayah yang bernama; Thirta Yahya Santosa dan seorang ibu yang bernama;
Sofiah Linawati. Telah memiliki bakat melukis dan mulai menekuninya ketika SMP
di THHK (Tiong Hoa Hwee Koan). Membuat merek/gambar di tirai kedai tukang bubur
kacang hijau adalah pekerjaan awalnya. Kemudian hampir semua warung memanfaatkan
keahiannya menggambar.Setelah lulus SMA, Ganes TH mencoba melanjutkan kuliah di
ASRI-Yogyakarta, namun tak pernah tuntas lantaran kesulitan keuangan. Lantaran
semua itu maka dia kemudian mengikuti kursus melukis, lantas menjadi asisten
pelukis Lee Man Fong. Diawali hanya menjadi tukang cuci kuas sambil mempelajari
teknis melukis pada pelukis terkenal tersebut.
Ia adalah seorang penulis (komik Silat) Cerita Silat Bergambar Indonesia terkenal. Ia merupakan
salah satu tonggak kejayaan komik Indonesia. Pada masanya Ganes TH. merupakan
salah satu dari “tiga dewa komik Indonesia” bersama dengan Jan Mintaraga dan
Teguh Santosa. Kisah dalam komik-komiknya begitu memikat hati pembaca komik
Indonesia di era tahun 1970 sampai 1980-an.
Ganes TH. menciptakan tokoh “Si Buta Dari Goa Hantu” yang menjadi trade mark-nya
dan merupakan tokoh komik lokal yang paling populer sepanjang masa. Komik Si
Buta Dari Goa Hantu adalah komik silat Indonesia pertama. Terbitan perdananya
langsung "meledak" sehingga komik Indonesia seperti dilanda demam silat sehingga
banyak komikus lain yang mengekor di belakang kesuksesan Si Buta. Kabarnya komik
seri ini dicetak hingga ratusan ribu eksemplar.
Serial Si Buta dari Goa Hantu karya ciptaannya tidak akan pernah dilupakan
orang. Petualangan Si Buta mulai dari Jawa Barat sampai ke Bali, Flores,
Kalimantan, Sulawesi Selatan, dan Sulawesi Tengah menunjukkan pengetahuannya
yang luas dan kecintaan pada tanah air yang begitu dalam. Sebelum sukses dengan
kisah Si Buta Dari Goa Hantu-nya, sebelumnya Ganes TH telah lebih dahulu
menghasilkan komik dengan judul sebagai berikut: "Api di Hutan Rimba","Mutiara
dari Tanusa", "Di Bawah Naungan Flamboyan", dan banyak lagi lainnya
Ganes TH dengan "Si Buta Dari Gua Hantu" bersama dengan Jan Mintaraga dan Teguh
Santosa merupakan salah satu ikon puncak sejak Kho Wan Gie, R.A. Kosasih, Zam
Nuldyn, dan Taguan Hardjo. Sejarah panjang komik Indonesia mencatat nama Ganes
TH sebagai salah satu legenda komikus Indonesia.
Karya Ganes TH
Si Buta dari Goa Hantu
Si Buta dari Goa Hantu: “Misteri di Borobudur“
Si Buta dari Goa Hantu: “Kabut Tinombala”
Si Buta dari Goa Hantu: “Iblis Pulau Rakata”
Si Buta dari Goa Hantu: “Banjir Darah di Pantai Sanur”
Si Buta dari Goa Hantu: “Bangkitnya Si Mata Malaikat”
Si Buta dari Goa Hantu: “Pamungkas Asmara”
Si Buta dari Goa Hantu: “Mawar Berbisa”
Si Buta dari Goa Hantu: “Misteri Air Mata Duyung”
Si Buta dari Goa Hantu: “Neraka Perut Bumi”
Si Buta dari Goa Hantu: “Manusia Kelelawar dari Karang Hantu”
Si Buta dari Goa Hantu: “Badai Teluk Bone”
Si Buta dari Goa Hantu: “Tragedi Larantuka”
Si Buta dari Goa Hantu: “Sorga yang Hilang”
Si Buta dari Goa Hantu: “Manusia Serigala dari Gunung Tambora”
Si Buta dari Goa Hantu: “Prahara di Donggala”
Si Buta dari Goa Hantu: “Prahara di Bukit Tandus”
Si Buta dari Goa Hantu: “Perjalanan ke Neraka”
Djampang Jago Betawi
Pendekar Selebor
Pengantin Kelana
Api di Langit Kulon
Zomba
Reo Anak Serigala
Taufan
Cobra
Petualang
Tjisadane (1968-1969)
Krakatau (1970)
Tuan Tanah Kedawung (1970)
Nilam dan Kesumah (1970)
Kunjungan di Tengah Malam
Jan Mintaraga

Jan Mintaraga (Nama asli Suwalbiyanto lahir di Yogyakarta, 8 November 1942 – meninggal 14 Desember
1999 pada umur 57 tahun) adalah seorang komikus silat (Cerita silat bergambar) Indonesia. Ia sempat mengecap
pendidikan di Akademi Seni Rupa Indonesia di Yogyakarta dan di Institut
Teknologi Bandung.
Ia mulai menggambar komik sejak tahun 1965. Banyak karya yang sudah diterbitkan,
antara lain Sebuah Noda Hitam, Tunggu Aku di Pintu Eden. Cerita-cerita silat:
Kelelawar, Teror Macan Putih, Indra Bayu, dll.
Ia juga menulis komik sejarah seperti Imperium Majapahit, Api di Rimba Mentaok.
Selain sebagai seorang kartunis, Jan Mintaraga juga dikenal sebagai seorang
ilustrator.
Teguh Santosa

Agus Santosa (lahir di Malang, Jawa Timur, 1 Februari 1942 – meninggal 25 Oktober 2000 pada umur 58 tahun) adalah seorang komikus Indonesia. Bersama Ganes TH dan Jan Mintaraga, Teguh Santosa sering disebut sebagai 'jawara' komik Indonesia. Dari segi kualitas coretan gambar dan pemahaman sejarah, bahkan Teguh dianggap melebihi 2 tokoh lainnya. Trilogi 'Shandora' merupakan karya Teguh yang sangat terkenal
Hans Jaladara

Hans Rianto Sukandi atau yang lebih dikenal dengan nama Hans Jaladara
atau Hans (lahir di Kebumen, 4 April 1947) adalah seorang komikus Indonesia
terkenal. Nama Jaladara baru dipakai Hans pada awal tahun 1970-an karena ada
peniru dengan nama Han, tanpa huruf S. Jaladara diambil dari tokoh komik wayang
karya Ardi Soma, yaitu Wiku Paksi Jaladara.
Hans yang pada awalnya membuat komik jenis drama, kemudian diminta sebuah
penerbit untuk membuat komik serupa Si Buta dari Goa Hantu karya Ganes TH. yang
waktu itu tengah menjadi idola di kalangan penggemar komik. Hans kemudian
menciptakan tokoh Pandji Tengkorak pada tahun 1968 dan komik ini sangat sukses
dipasaran. Komik Pandji Tengkorak kemudian dibuat film dan dibintangi oleh Deddy
Sutomo, Shan Kuan Ling Fung, Rita Zahara, Lenny Marlina dan Maruli Sitompul.
Kebiasaan membaca (termasuk komik) merangsang Hans untuk berimajinasi dan
merangkai cerita. Gerakan silat dalam komik merupakan aktualisasi dari ilmu yang
diperolehnya saat belajar kungfu di perguruan Cheng Bu di kawasan Mangga Besar
dan judo pada Tjoa Kek Tiong.
Sekitar tahun 1975 sampai 1980-an, komik Indonesia mengalami kemerosotan seiring
dengan membanjirnya komik-komik impor. Hans masih bertahan dan sempat
menerbitkan Pandu Wilantara dan Durjana Pemetik Bunga. Semangatnya mulai bangkit
kembali ketika ada tawaran untuk memproduksi kembali Panji Tengkorak versi 2
pada tahun 1984 dan kemudian versi 3 tahun 1996.
Pada tahun 1990 Hans menggeluti dunia seni lukis dan beberapa kali mengikuti
pameran. Ia mengaku terlambat membuat lukisan, setidaknya jika diukur dari masa
kejayaan lukisan. Melukis dan mengajar hingga kini masih ia tekuni agar hobi
menggambarnya tetap tersalurkan. Dunia komik memang telah menjadi bagian dari
hidupnya bahkan kedua putrinya berhasil Ia sekolahkan hingga perguruan tinggi
dari penghasilan membuat komik. Ia masih menaruh harapan besar, suatu hari kelak
komik lokal kembali berjaya di negerinya sendiri.
Karya Hans Jaladara
Tatang.S

Tatang S bernama lengkap Tatang Suhenra. Pada tahun 1970-an, kabarnya, ia pernah menjadi komikus yang bayarannya paling tinggi di Bandung. Ketika itu, ia dikenal sebagai komikus cerita-cerita silat. Karena ambisinya dalam mencipta komik sangat besar, tidak jarang ia sering ‘berbenturan’ dengan rekan-rekannya sesama komikus. Kasus yang menonjol adalah ketika ia terlibat ‘perang komik’ dengan Ganes TH. Ganes merupakan seorang komikus yang kesohor dengan karyanya, ‘Si Buta Dari Goa Hantu’. Pada suatu ketika, Ganes pindah dari sebuah penerbitan. Penerbit tersebut tak terima dan sakit hati dengan kepindahan Ganes. Tak lama kemudian Tatang direkrut oleh penerbit itu untuk menyaingi komik sohor karya Ganes. Tatang lalu membuat komik ‘Si Gagu dari Goa Hantu’ untuk menyaingi ‘Si Buta dari Gua Hantu’-nya Ganes. Lalu apa yang terjadi? Ternyata komik karya Tatang ini cuma beredar sebanyak tiga edisi sampai akhirnya dibredel. ‘Si Gagu dari Goa Hantu’-nya Tatang membuat dunia perkomikan Indonesia gempar. Secara tidak langsung, Tatang telah menjadi korban pemainan penerbit, sehingga karir Tatang sebagai seorang komikus silat hancur.
Karir Tatang kembali bersinar setelah ia membuat komik dengan tokoh Punakawan (Gareng, Petruk, Semar, Bagong). Karir Tatang kembali bersinar setelah ia membuat komik dengan tokoh Punakawan (Gareng, Petruk, Semar, Bagong). Pada 27 April 2003, Tatang S meninggal dunia. Menurut sejumlah rumor yang beredar, ia meninggal karena penyakit kencing manis. Penyakit ini diderita lantaran Tatang, yang sering kerja pada malam hari, ketagihan meminum minuman bersoda. Meski kehidupannya diliputi misteri, Tatang telah mendedikasikan seluruh hidupnya untuk komik Indonesia.
Djair

Djair Warni, 49 tahun, “Jaka Sembung”
Dia adalah satu dari “The Big Seven”. Dan Djair Warni, komikus itu, menjadi
salah satu dari tujuh besar karena karyanya Jaka Sembung, Djaka Gledek, Si
Tolol, Kiamat Kandang Haur, Malaikat Bayangan, dan Toan Anak Jin. Seperti
rekan-rekannya sesama “The Big Five”, Djair tergolong komikus otodidak. Ia sudah
membuat komik sejak masih remaja. Padahal, dulu ayahnya menaruh harapan supaya
Djair bercita-cita sebagai insinyur. “Waktu itu saya sering dimarahi Ayah karena
lebih senang membuat komik daripada belajar. Akhirnya saya mencuri-curi
kesempatan,” tutur Djair. Ia menggemari karya-karya Ganes T.H. (Si Buta dari Goa
Hantu), Jan Mintaraga (Rio Purbaya), dan Hans Jaladara (Panji Tengkorak) ini.
Mungkin karena itulah komik-komik Djair juga memiliki pengaruh dari komikus yang
dikaguminya; ia cenderung mengisahkan pengembaraan seorang pendekar dalam
menegakkan kebenaran. Kisah pengembaraan para pendekar yang dianggap pahlawan
itu lengkap dibumbui cerita kehidupan sehari-harinya, sehingga terasa membumi.
Lihat saja Jaka Sembung. Berbeda dengan tokoh hero seperti Si Buta dari Goa
Hantu atau Panji Tengkorak yang selalu berkawan dengan sunyi, Jaka Sembung
justru digambarkan sebagai tokoh yang sudah berkeluarga. Atribut yang digunakan
Jaka juga tidak seperti Si Buta, yang berpakaian kulit ular, melainkan baju
biasa berlilit sarung. Begitu populernya hingga kisah Jaka Sembung itu sempat
diangkat ke layar lebar dengan bintang Barry Prima.
Pada masa jayanya, penghasilan yang diperolehnya cukup untuk menghidupi istri
dan ketiga anaknya. Maklum, untuk satu cerita terdiri dari 7 sampai 10 jilid ia
memperoleh Rp 100 ribu, yang merupakan angka yang tinggi untuk ukuran tahun
1960-an. Sayang, zaman keemasannya sulit terulang. Ia bahkan pesimistis, komik
Indonesia bakal bangkit kembali. Soalnya, “Sekarang sudah ada televisi, bioskop,
mal, dan videogame. Anak-anak sudah terbiasa dicekoki komik terjemahan dari luar
negeri,” kata Djair. Ia kini banting setir menekuni profesi di dunia sinetron
dan film sebagai penulis skenario. Salah satu karyanya adalah skenario film
Fatahillah, yang dibiayai Pemerintah DKI (1997).
to be continue
PS : bila ada teman yg memiliki data dan foto untuk melengkapi tolong kirim ke 22111122@yahoo.com
Biang Lala Komik Indonesia
Cerita bergambar atau komik pertama kali terbit di indonesia sejalan dengan
munculnya media masa berbahasa Melayu Cina dimasa pendudukan Belanda. Cergam Put
On karya Kho Wan Gie tahun 1930 diharian Sin Po, menceritakan sosok gendut
bermata sipit yang melindungi rakyat kecil bercerita indonesia sebagai tanah
kelahiranya . komik ini sangat populer masa itu,sedangkan nama Put on adalah
jenis cerita bergambar yang bercorak humor berbentuk kartun .
Cerita bergambar yang bercorak realistik baru dimulai oleh Nasoen As sejak tahun
1939. Bonnef menempatkan awal perang dunia I sebagai masa pertumbuhan awal komik
Indonesia , komik pertama dalam kasanah sastra Indonesia aialah mencari Putri
Hijau (Nasroen As) dimuat dalam harian Ratoe Timoer.
Pada masa pendudukan Jepang 1942 muncul cerita legenda Roro Mendut Gambaran B.
Margono, di harian Sinar Matahari Jogjakarta. Setelah Indonesia merdeka harian
Kedaulatan Rakyat memuat komik Pangeran Diponegoro dan Joko Tingkir dan pada
tahun 1948 cerita kisah kependudukan Jepang oleh Abdul Salam. Cerita yang
bertemakan petualangan dan kisah- kisah Kepahlawanan/ Heroisme yang diangkat
dari cerita rakyat sehubungan dengan situasi politik pada masa itu , buku komik
jenis ini banyak muncul pada tahun 1952, misalnya "Sri Asih" (1952) karya R.A
Kosasih, "Kapten Jani", "Panglima Najan "( Tino Sidin), Tjip Tupai "Mala
pahlawan rimba" (1957) dan sebagainya.
Masa keemasan dan kebangkitan kedua komik Indonesia (1980) ditandai banyaknya
ragam dan judul komik yang diterbitkan pada masa itu. Ragam komik yang disukai
pada priode ini , yakni komik roman remaja yang bertemakan roman kehidupan kota
. beberapa komikus yang dominan adalah Budijanto, Zaldy, Sim dan Mintaraga,
karya Jan Mintaraga yang cukup poluler adalah Sebuah Noda Hitam. Komik silat,
yang bertemakan petualangan pendekar-pendekar ahli silat . Ganes TH spesialis
dalam jenis komik ini, karya- karya lainnya Serial SiButa dari Gua Hantu,
Siluman serigala Putih, Tuan Tanah Kedaung, Si Djampang, Panji tengkorak dengan
(Hans Jaladara),Godam (Wid NS) dan Gundala karya Hasmi
Kecerdikan penerbit, kreativitas komikus dan tanggapan pembaca menciptakan
dinamika yang mendukung suburnya dunia komik saat ini. Komik strip asing ,
seperti Flash Gordon, Rip Kirby, Prince Valiant, Tarzan dan Superman yang masuk
indonesia lewat surat kabar, juga menjadi pendorong penciptaan karya komik-komik
Indonesia.pada masa sekarang, memang kita harus banyak belajar dari negara
Jepang, bukankah komikus kita sebenarnya memiliki kemampuan. Kalau kita melihat
pemenang sayembara komik yang diadakan pekan komik dan animasi nasionl (PKAN)
digelar di Galeri Nasional, pebruari 2000 lalu, kita kagum dan terharu, kenapa
mereka bisa bikin komik begitu bagus dan tidak kalah dengan komik asing. Menurut
tulisan Noor Cholis komik indonesia sebagian besar hanyalah merupakan khobah
bergambar. Penuh petua-petuah verbal ini itu. Pesan yang ingin disampaikan pun
terlalu hitam putih, penuh samangat lokal yang dibuat-buat sehingga menimbulkan
rasa risih bagi pembaca dewasa dan membosankan bagi anak-anak anak-anak
mempunyai dinamika yang berbeda yang dimiliki oleh orang tua mereka. Dahulu
komik seperti Mahabarata yang konon penuh ajaran mulia, cerita-cerita sejarah
yang hebat lagi perkasa boleh sangat disukai, bahkan pernah mencapai kejayaan
dengan penjualan yang sangat mengagumkan.